Pringgotono: “Orang Jakarta Mencari Aman”

ditulis oleh: tim Indonesia Art News

Tampak sebagian dari selusin "helm proyek" yang telah disentuh secara artistik oleh MG Pringgotono hingga meraih 'Special Mentioned' dalam Indonesia Art Award 2010. (foto: kuss)

http://indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=94

SELUSIN “helm proyek” itu tertata berjajar dalam satu baris horizontal. Helm yang tidak berstandar SNI dan pasti ditilang polisi kalau memakai di jejalanan tersebut telah menemu habitatnya yang baru: ruang pamer seni. Ya, tubuh cembung helm “murahan” telah menjadi medium penting bagi seniman airbrush, MG. Pringgotono untuk mengguratkan selera artistiknya. 12 helm itu kini telah tergambar menjadi 12 wajah manusia (urban?) yang beragam. Ada yang tersenyum simpul. Ada yang menyeringai hingga barisan giginya nampak. Ada yang seperti bertampang serius dengan bagian hidung dan mulut tertutup bandana, dan sebagainya. Semuanya seperti tengah berkisah tentang dirinya masing-masing.

Karya unik bertajuk “Aman Suraman Smile” tersebut menjadi salah satu peraih Special Mentioned (bersama seniman Ariswan Adhitama dari Yogyakarta) dalam Indonesia Art Award 2010. Perhelatan pameran itu sendiri berlangsung di Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jakarta, 17-27 Juni 2010. Dan ini menjadi prestasi tersendiri bagi seniman lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kelahiran 11 Oktober 1980. Setidaknya, pilihan kreatifnya untuk menggeluti dunia airbrush yang telah ditekuninya bertahun-tahun merasa diapresiasi dengan baik. Bisa diduga, Ini menjadi tambahan stimulus penting bagi perjalanan berkeseniannya.

Bagaimana dasar kreatif karya MG Pringgotono kali ini? Berikut wawancara singkat Indonesia Art News bersama seniman yang juga menjadi salah satu motor Serrum, sebuah kelompok seni rupa yang berfokus pada pendidikan alternatif di Jakarta.

Apa konsep dasar dari karya Anda, Maman Suraman Smile itu?

Judulnya Aman Suraman. Saya bertanya sama diri saya, kayak gimana sih tampang-tampang orang Jakarta kalau tersenyum (dengan) merasa aman. Ternyata senyumnya ya kayak gitu itu yang saya tangkap. Ada yang mesem doang, pelit senyum dan bahkan nggak ketauan dia lagi senyum apa nggak karena pake masker or helm.

Adakah hal yang mendasari karya tersebut? Misalnya, apakah anda sedang memberi keberbihakan atau pemaknaan atas kasus sosial tertentu?

Medium helm saya pilih karena helm adalah alat untuk keamanan diri (khususnya kepala). Membuat diri pengguna merasa aman. Yang saya perhatikan dengan banyaknya motor di Jakarta dan pertumbuhannya terus meningkat, helm sudah menjadi identitas keseharian. Saya pengendara motor yang menghabiskan waktu “berada” di dalam helem minimal 4 jam sehari. Kalau ditanya adakah keberpihakan, saya hanya mengungkap apa yang saya alami saja. Seperti kebanyakan orang di Jakarta, saya bermotor kesana-kemari menghadapi macet untuk bekerja mencari nafkah, menghidupi keluarga dan mencari rasa aman.

Bagaimana mengaplikasikan ide, konsep hingga menjadi karya?

Saya lukis menggunakan teknik airbrush, beberapa wajah adalah wajah dari teman-teman sendiri.

Berapa lama waktu yang Anda butuhkan?

Kurang lebih 2 minggu

Apa media dan teknik airbrush sudah lama anda geluti?

Ya, saya sudah 13 tahun di airbrush. Dari airbrush-lah saya memulai masuk ke dunia seni rupa dan belajar banyak tentap seni. Karya-karya saya tidak selalu menggunakan airbrush sebagai teknik utama (walaupun maunya pake airbrush). Karena saya sadar kalau media atau teknik harus bisa menjembatani konsep kepada publik.

Karya anda itu “hanya” stok lama, atau khusus untuk menghadapi Indonesia Art Award 2010?

Posisi saya sebagai ketua di http://www.serrum.org (pada kurun) 4 tahun belakangan ini membuat saya punya sedikit waktu untuk berkarya (ngurusi karya orang mulu tapi karya sendiri nggak, hehe). Nah tahun ini 2010 ketua sudah diregenerasi jadi saya memang lagi ngejar karya, pengennya sih pameran tunggal. Isu yg diangkat semacam penjelasan yang tadi saya ungkap di atas. Nah, pucuk dicinta IAA-pun tiba. Saya langsung buka sketsa-sketsa yang bisa saya pilih untuk IAA. Saya buat dan kirim. Alhamdullialh diapresiasi sangat baik.

Apa yang anda bayangkan ketika menghadapi tema “Contemporaneity” yang disodorkan oleh panitia IAA 2010? Inikah pembacaan atas makna Contemporaneity versi subyektif anda sendiri?

Sering saya berpikir sederhana tentang kata kontemporer, yaitu sementara, bisa berbeda fungsi menyesuaikan ‘siten’nya. Seperti karya saya helm-helm itu. Bisa ‘tidak art’ jika ada di atas kepala tukang ojek yang sedang membawa pelanggannya. Tapi jika di-install sedemikian rupa dan diimbangi dengan ‘craftsmanship’ dan berada di galeri, bisa menyuarakan sesuatu.

Apa arti kemenangan anda yang memakai teknik visual “sederhana” dan “biasa” ini?

Saya senang karena baru kali ini saya melihat karya seni airbrush bisa dianggap fine art di indonesia. Mudah-mudahan membuka peluang baru bagi para airbrusher.

Bagaimana respons sekitar anda atas karya airbrush anda selama ini?

Sejauh ini saya merasa apresiasinya baik dan membuat saya semangat untuk terus berkarya apalagi yang bisa dimanfaatkan langsung oleh publik.

Proyek (besar) apa yang tengah anda jalani atau akan anda kerjakan saat ini/ke depan?

Wah, saya ini orang yang banyak maunya tapi kemampuan terbatas, hehehe. Pertama ya terus berkarya. Saya juga sedang mengelola http://www.airbrushindonesia.tk, sedang merencanakan fetival seni airbrush, kalau yang sedang dikerjakan project ‘Lets pimp your drawing book’ (bisa di-search di jejaring Facebook) dan akan membuat project lanjutannya. ***