ditulis untuk katalog pameran “press-sure” oleh:

Ardi Yunanto

Setiap kali istilah “airbrush” mampir ke telinga saya, harus diakui, yang saya ingat bukanlah sebuah alat yang mengandalkan tekanan udara untuk menyemprotkan cat, tapi tangki motor atau kap mobil yang penuh dengan gambar liar mempesona, seperti kobaran api atau tengkorak penuh tulang-belulang yang terkesan begitu jantan.

Saya pikir, itu pula yang masih diingat banyak orang tentang airbrush: si benda tempatnya berada. Di Indonesia, jenis benda itu menyempit menjadi badan kendaraan. Yang teringat bukan alat mungil itu. Apalagi hasil teknik semburannya, yang bisa sangat manipulatif menyerupai kenyataan. Seakan apa saja yang terlihat dan terpikirkan tampaknya bisa saja digambar dengan alat itu.

Alat kecil itu memang sakti. Dan layaknya benda sakti, ia niscaya rendah hati. Potensinya tersembunyi di balik tangan dingin tuannya. Tuannya pun terkadang berada di balik layar ciptaannya. Yang teringat oleh banyak orang akhirnya adalah hasil karya yang paling sering terlihat di suatu benda.

Dan, ah, tampaknya selain badan kendaraan, airbrush juga mengingatkan kita pada lukisan tubuh—yang biasanya adalah tubuh perempuan. Walau pada gambar warna-warni di lekuk tubuh indah itu, kata yang menjelaskan adalah “body painting”. Bukan “airbrush” sebagai alat penentu yang membuat segala muslihat di landasan yang menggoda iman para penggambar pria itu, bisa terwujud.

Tak seperti alat gambar lain, airbrush memang punya daya kepersisan visual yang tinggi, sekaligus bisa menggambar di segala landasan: dari dua hingga tiga dimensi, dari benda mati sampai manusia. Tak heran kalau kekhasan itu yang membuat sejarah airbrush—sejak pertama dipatenkan pada 1876 di Newton, Amerika Serikat—dalam awal perjalanannya, terkait dengan manipulasi. Dari manipulasi politis seperti di era Stalin di Uni Soviet pada 1930-an dengan menghapus sejumlah tokoh pada foto agar lenyap dari dokumentasi sejarah, sampai untuk mempercantik model perempuan pada sampul-sampul majalah seperti Playboy pada 1950-an. Sekarang, di era digital ini, peran airbrush di media cetak sudah digantikan oleh piranti lunak digital seperti Photoshop.

Airbrush boleh jadi menyingkir dari wilayah digital, namun perannya di benda sehari-hari makin merajalela. Jika awalnya, pada 1990-an di Indonesia, airbrush lebih digunakan untuk menggambari badan kendaraan, sekarang airbrush bisa menggambari apa saja, dari baju, poster, telepon genggam, komputer jinjing, papan selancar—singkatnya, apapun yang terpikirkan, termasuk tubuh kita sendiri.

Dengan begitu, sebenarnya seniman airbrush terus mengoptimalkan potensi alatnya. Membuang tokoh politik dari sejarah maupun mengusir jerawat di wajah aktris, tentu bukan potensi utama airbrush, karena pada akhirnya yang terlihat adalah fotonya, bukan gambar airbrush-nya. Pada lukisan atau mural berbahan campuran, airbrush kadang juga digunakan untuk menambah kualitas karya. Namun hanya sebagian orang yang bisa mengenali, di sisi gambar yang mana teknik airbrush itu digunakan.

Semuanya, dari foto, majalah, sampai lukisan, adalah benda dua dimensi. Sementara airbrush mampu menggambari benda tiga dimensi jauh lebih baik dari alat lain. Mungkin itu pula yang membuat gambar airbrush lebih nyata dan menyala di badan kendaraan atau tubuh manusia. Ada kontras yang nyata antara tekstur dan warna penampang gambar dengan gambar airbrush sendiri, sehingga di benda-benda tiga dimensi, gambar airbrush tampil lebih jelas.

Kontras itu, jelas membuat kenangan kita atas gambar airbrush jadi lebih melekat pada badan kendaraan—selain karena faktor sejarahnya. Kabarnya, airbrush mulai digunakan di Indonesia pada awal 1990-an. Masa dimana ekonomi semu Orde Baru bangkit setelah 1986 seiring dibukanya keran investasi asing. Singkatnya, ekonomi yang tumbuh menciptakan kelas menengah baru, kemampuan orang membeli kendaraan, dan selanjutnya adalah kebutuhan untuk menghias kendaraan.

Sekarang, gambar airbrush memang ada di mana-mana. Selain itu, sejumlah seniman mulai menggunakan airbrush untuk karya rupanya. Ada seberkas ambisi untuk memperkenalkan airbrush agar sederajat dengan teknik gambar lain yang sudah lebih dulu mapan di dunia seni rupa Indonesia. Namun bagi saya, bukan pada jenis wilayah kerja tersebut (antara airbrush yang menghias produk dan seringkali dicap hanya sebagai kerja komersil, dengan airbrush dalam ranah seni rupa yang—selain punya hasrat untuk diperbincangkan—diam-diam juga punya hasrat untuk dibeli), potensi airbrush dapat dioptimalkan.

Dalam hal permukaan bidang gambar, karya seni rupa airbrush yang umumnya dua dimensi, bisa dibilang tidak terlalu menghargai kemampuan sejati dari airbrush. Airbrush dalam karya seni rupa dua dimensi, akan jatuh pada kesetaraannya dengan teknik gambar lainnya. Di titik ini, airbrush pada produk tiga dimensi, termasuk di badan kendaraan, jadi tampak lebih menguasai bendanya. Namun dalam karya airbrush yang menghias produk tiga dimensi itu, gambar-gambar yang ada cenderung hanya menggambari suatu bidang tiga dimensi. Apa yang digambar biasanya tak memiliki hubungan dengan hakikat bendanya. Dalam hal ini, keberadaan benda, dari kap mobil, helm, sisi luar layar komputer jinjing, jadi serupa dengan kanvas pada lukisan; dua atau tiga dimensi, mereka hanyalah sebuah bidang gambar.

Menariknya, hubungan erat antara hakikat benda dan gambar airbrush itu, umumnya sudah terjalin pada lukisan tubuh perempuan, yang sering dibuat seolah-olah memakai pakaian dalam. Ada kebutuhan yang kuat, untuk diam-diam menjadi sopan, dengan tidak membiarkan payudara maupun vagina diumbar telanjang begitu saja.

Memang, kalau diteliti lebih dalam, lukisan tubuh perempuan ini sungguh unik. Ia melampaui mode pakaian dalam yang tampil sebagai busana luar (contoh lucunya ada pada kostum pahlawan super dalam komik-komik Barat). Sementara pada lukisan tubuh, tubuh itu dibuat seolah berkutang dan bercawat padahal telanjang. Namun di Indonesia, kiranya tak banyak perempuan yang rela bugil sekalipun hanya di hadapan seniman airbrush. Maka kita kembali saja pada kaitan erat antara hakikat ‘benda’ dan gambar airbrush tadi.

Dalam lukisan tubuh perempuan, bagaimanapun niat, hasrat, maupun aksinya, sudah terjadi suatu pemahaman atas obyek. Setidaknya, tubuh telanjang membutuhkan pakaian dalam. Di sini, saya membayangkan, adakah pemahaman hakikat obyek di benda lain, yang mungkin bisa mengoptimalkan potensi airbrush?

Saya kira pemahaman semacam itu bisa melampaui perdebatan seni rupa lawan hiasan atau komersil lawan tidak komersil, yang tak selalu berujung pada pendalaman kreativitas. Karena jelas, suatu pemahaman obyek membutuhkan kreativitas. Di dalamnya tak akan hanya terjadi pembongkaran citra atas sebuah obyek, namun juga kepekaan atas kesadaran visual orang banyak terhadap obyek itu, menempatkan karya airbrush dalam ranah publik secara kritis, sembari mengembalikan kekhasan airbrush yang sejati: daya manipulasinya.

Jika segala gambar bisa dikerjakan oleh airbrush, segala hal menjadi mungkin, sebenarnya. Termasuk untuk melampaui bidang gambar yang umumnya berupa benda-benda yang kita pakai, dengan membawa potensi airbrush keluar studio, dalam menghadapi kota Jakarta kita yang centang-perentang ini.

Saya membayangkan ada peranan airbrush di tengah keriuhan dan kericuhan visual ibukota ini. Bukan hanya sebagai gambar-gambar. Karena tampaknya grafiti dan mural yang sudah ada, umumnya bukannya menyegarkan masalah visual kota, namun malah merengek minta diperhatikan di antara poster fotokopi macam “Sedot WC”, papan iklan, himbauan Pemda, spanduk hujatan kaum fundamentalis, ataupun kabel-kabel listrik yang semrawut. Gambar airbrush yang saya bayangkan, adalah gambar yang mampu menanggapi permasalahan ruang kotanya dengan cara yang beragam. Bisa dengan menyepikan yang ramai, mempermainkan atau memanipulasi kesadaran ruang orang, atau apapun. Karena airbrush mampu melakukan ilusi optik.

Pada dinding, misalnya, dengan airbrush, sebuah area yang sumpek bisa disulap menjadi panorama perdesaan yang romantis. Gedung-gedung yang tak kunjung diurus pascagempa, bisa diretakkan lebih dramatis sebagai bentuk teror dan kritik terhadap pemerintah yang zalim. Penampang dua buah gedung bersebelahan yang tidak sinkron secara visual bisa “direparasi” pada sambungan gedungnya. Tembok terowongan jalan bisa dibuat berlumut sebagai proyeksi masa depan atas ‘hobi’ kita untuk tak pernah merawat sesuatu. Sebuah kaca jendela Poskamling bisa digambari Hansip yang sedang tertidur agar Hansip yang biasanya memang jarang ada di pos itu, bisa terus keluyuran, sementara dirinya yang dilihat orang, tampak selalu pulas di posnya.

Pada dinding atau lantai, jika kita ingat komik “Coki Pelukis Cepat” yang pernah muncul di majalah Hai awal 1980-an, seniman airbrush sekarang tentu akan jauh lebih canggih melakukan ilusi optik daripada Coki yang hanya menggunakan kapur warna.

Pada benda misalnya, sebuah tangki motor bisa dibuat tembus pandang dan digambari dengan tinggi permukaan bensin yang tiris, kalau pemiliknya suka lupa mengisi bensin. Pada benda juga, kita bisa lebih jauh menggali memori kolektif kita atas sebuah benda. Benarkah apa yang niscaya kita percaya atas benda selama ini tidak terkungkung dalam suatu nilai atau norma tertentu? Ketika air hanya bisa ditampung oleh wadah, mengapa kita harus minum hanya dari sebuah gelas? Tidakkah dari sebuah mangkok akan sama saja?

Pemahaman atas benda, dan pemanfaatannya untuk fungsi lainnya, kini memang marak dipikirkan. Contoh banalnya, kini banyak kafe-kafe mahal yang berlagak “ramah lingkungan” dengan menggunakan kerat bir atau ban mobil sebagai meja, serta pengalihan fungsi barang-barang lain. Gaya-gayaan atau bukan, hal ini tetap diawali dari suatu pemahaman atas fungsi benda dan memori kolektif orang atas fungsi dan citra benda tersebut. Hal-hal yang kiranya mampu menginspirasi kreativitas sebelum akhirnya seniman airbrush memberi peran berbeda pada alatnya.

Tentu masih banyak ide yang bisa digali, terutama kalau berdasarkan kepekaan kita atas berbagai permasalahan yang terjadi di ruang publik. Apalagi di kota Jakarta yang sarat masalah dan susah solusi ini. Kehadiran airbrush yang ‘bermain’ di ruang publik, dengan kepekaannya, pemahaman obyeknya, kemampuan realisme tingkat tingginya, daya manipulasinya, kelenturannya atas bidang gambarnya, tidak hanya bisa berguna bagi orang banyak dan membuat airbrush punya peran sosial. Namun juga bisa menjawab, sekaligus melampaui tudingan selama ini atas airbrush yang hanya digunakan sebagai hiasan produk, ataupun hasrat besarnya untuk diakui dalam ranah seni rupa. Perkara untuk apa, selain demi kebaikan orang banyak, yang di zaman begini bisa saja terdengar begitu naif dan bikin capek, untuk sementara saya mungkin baru bisa menjawab: demi kreativitas.

Jika ditanya apakah kreativitas semacam itu bisa menjawab permasalahan uang—apalagi mengingat bahwa pengerjaan gambar airbrush membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tak murah—saya yakin bisa. Karena jika dari awalnya airbrush hanya digunakan untuk memanipulasi foto, lalu tiba-tiba pada suatu masa airbrush bisa beralih dalam ranah modifikasi otomotif yang menguntungkan seperti yang kita kenal sekarang, bukankah kreativitas lebih, yang meluas pada segala benda, segala ruang, dan menyikapi segala masalah sosial di luar sana, dengan sendirinya juga akan memperluas kemungkinan pendapatan?

Ini seperti merintis jalanan di tengah belukar, memang. Penuh duri dan duka, kalaupun bukan penuh luka. Namun saya yakin, potensi airbrush yang seakan tak terbatas itu, perlu juga disambut oleh kreativitas tanpa batas. Tak ada yang dengan mudah bisa mengira, potensi macam apa sebenarnya yang terpendam pada sebuah alat yang semakin hari akan semakin canggih itu. Begitu juga perkiraan tentang masa depan atas apa yang kita kerjakan hari ini. Namun mungkin saja, kreativitas tanpa batas itu suatu saat akan membuat kenangan orang atas airbrush dan pengalaman hidup berkotanya, bisa jauh lebih menantang.

Jakarta, 14 Mei 2010

Penulis adalah redaktur Karbonjournal.org