sumber: postingan http://hurek.blogspot.com/2008/06/wawang-airbrusher-kondang.html

Irwan Wahyudy alias Wawang, arek Magersari Permai R-03 Sidoarjo, menjadi salah satu airbrusher terkemuka di Jawa Timur. Belum lama ini ia dipercaya tabloid Ototrend (Jawa Pos Group) mewakili Indonesia di kontes airbrush internasional di Bangkok, Thailand.

SANTAI, sederhana, tenang, blak-blakan, enak diajak ngobrol. Itulah Wawang, yang nama lengkapnya Irwan Wahyudy. Praktis, hampir sepanjang hari Wawang tak pernah lepas dari sepeda motor (milik orang) yang akan dilukis dengan teknik airbrush.

“Kalau yang ini motornya orang Bandung. Saya diminta membuat desain ala kayu jati dan sedikit motif kartun. Baru rampung nih,” ujar Wawang kepada saya.

Di dunia seni rupa teknik melukis dengan airbrush tergolong gampang-gampang susah. Airbrush kerap dianggap hanya sebagai pekerjaan ‘tukang’, kerajinan, bukan seni. Apalagi, biasanya si pelukis airbrush mengerjakan pesanan orang lain, bukan kreasi sendiri. Namun, rumusan ini tak berlaku bagi seorang Wawang.

Ia mengerjakan airbrush, pesanan atau bukan, sebagai wujud ekspresi seni. Melukis dengan cat (teknik airbrush) dengan badan sepeda motor sebagai mediumnya. Cat menyembur sangat cepat, beda dengan melukis pakai cat di atas kanvas (oil on canvas), menuntut konsentrasi dan keahlian tingkat tinggi. Salah sedikit hasilnya sangat buruk.

“Saya sudah mantap di airbrush,” ujar pria kelahiran 3 Januari 1976 ini.

Kendati senang otomotif dan belajar airbrush sejak kecil, Wawang baru menekuni airbrush gara-gara krismon. Krisis moneter sejak 1997 membuat Wawang kehilangan pekerjaan. Menganggur. Kerja serabutan, merintis usaha kecil, ternyata tetap sulit. Padahal, ia punya istri dan seorang anak yang masih kecil. Hidup harus jalan terus.

Setelah merenung, pria gondrong ini akhirnya sadar bahwa ia punya kemampuan melukis airbrush. Maka, di awal 2000-an itu Wawang mulai menekuni airbrush secara serius. Bagaimana menjadikan airbrush sebagai mata pencarian, ketimbang menjadi pegawai, buruh, atau bekerja pada orang lain. Ternyata benar. Kemampuan airbrush Wawang terus berkembang.

Ketekunan Wawang diam-diam menyebar ke komunitas otomotif di Sidoarjo, Surabaya, dan Jawa Timur. Tabloid Ototrend pun akhirnya menangkap fenomena si gondrong Wawang, beberapa kali membuat liputan khusus tentang Wawang. Apalagi, lukisan-lukisan airbrush Wawang selalu unik, menarik, layak masuk tabloid otomotif.

Gara-gara tabloid Ototrend itulah, nama Wawang tersebar ke seluruh Indonesia. “Saya dapat pesanan dari mana-mana, lebih banyak dari luar Jawa. Bahkan dari Irian Jaya alias Papua,” ujar Wawang didampingi Maria, istrinya.

Berdasar pengalamannya, penggemar otomotif dari luar Jawa, khususnya Kalimantan dan Papua, tidak tanggung-tanggung kalau memesan lukisan airbrush. Gampangnya, mereka tak mengenal negosiasi atau tawar-menawar. “Kuncinya di trust, kepercayaan. Ini yang membedakan dengan teman-teman di Sidoarjo,” ujar Wawang seraya tersenyum.

Asal tahu saja, penggemar otomotif di Sidoarjo cenderung suka menawar harga secara ekstrem dan kurang menghargai sulitnya melukis dengan teknik airbrush. Harga ditekan sangat rendah. “Saya kasih jalan keluar. Kalau danamu nggak cukup, bagaimana kalau airbrush dicicil, tidak seluruh bodi? Eh, teman Sidoarjo ini tetap keberatan. Kondisinya memang begitu.”

Karena itulah, menurut Wawang, teknik airbrush sulit berkembang di Kabupaten Sidoarjo. Buktinya, sampai sekarang airbrush painter tak lebih dari enam orang, termasuk Wawang. Ketika ada kontes otomotif di halaman GOR Sidoarjo beberapa waktu lalu, misalnya, praktis Sidoarjo hanya menjadi penonton. “Teman-teman harus belajar banyak dari kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, bahkan luar Jawa,” tukasnya.

Tahun 2006, Wawang alias Irwan Wahyudy terpilih mengikuti kontes airbrush internasional di Bangkok. Wawang sendiri mengaku tidak pernah menyangka kalau hobi iseng-iseng ini ternyata membuatnya menemukan dunia baru yang asyik. Dan ia sangat menikmati itu.