woldpat1885charlesB.jpg

Sejarah airbrush

ditulis oleh MG Pringgotono dari berbagai sumber

 

Prasejarah

Pada zaman pra sejarah manusia mulai mengolah rasa estetikanya dengan lukisan/gambar pada alat rumah tangga mereka. Begitu juga pada batu dan dinding gua. Mereka berusaha menceritakan pemahaman tentang manusia, hewan, dan tumbuhan melalui dinding gua. Di argentina didalam gua Pinturas River region Patagonia terdapat lukisan dinding yang menjadi cikal bakal teknik airbrush. Airbrush sederhana ini dilakukan dengan tulang hewan untuk menyemburkan pewarna yang disimpan di dalam mulutnya dan telapak tangan mereka sebagai malnya.

 

Temuan pertama, 1879

Dalam catatan sejarah seni lukis modern, airbrush baru berkembang pada akhir abad ke-19. tahun 1879 dikenal sebagi tahun penemuan teknik melukis dengan memanfaatkan tekanan angina yang kini dikenal dengan airbrush. Alat yang digunakan untuk mentransfer cat ke media lukis awalnya disebut paint distributor. Orang yang berjasa menemukan alat ini adalah Abner Peeler, seorang penemu professional yang sepanjang hidupnya melakukan berbagai percobaan. Kemudian Peeler menjual patennya kepada Lyberty Walkup dari perusahaan Walkup brothers pada bulan Agustus 1883.

 

Ketika di Indianapolis dilakukan kovensi fotografi, paint distributor terjual sebanyak 63 unit pada 1883, Lyberty Walkup mendirikan sebuah pabrik yang dinamakan Airbrush Manufacturing Company di Rockford, Illinois. Saat itu pula istilah airbrush diperkenalkan kepada umum. Alat ini banyak digunakan untuk keperluan foto retouching. Sukses Walkup memicu banyak orang meniru langkahnya.

charles L. Burdick, inventor of airbrush in 1893.jpg

Temuan kedua, 1893

Charles L. Burdick, seorang seniman Amerika yang tinggal di Chicago menemukan pen bertipe internal mix airbrush. Setelah mennemukan alat ini, pada tahun 1893 ia pindah ke inggris untuk mendirikan Fountain Brush Company. Burdick orang yang berjasa dalam memodifikasi alat ciptaan Peeler sehingga menjadi alat yang mudah digunakan karena bentuknya menyerupai pena. Ia memperkenalkan sekaligus mematenkan temuannya yakni needle control system atau system control pengeluaran cat dengan sebatang jarum.

maestro-confrence1.jpg

Kedudukan airbrush dalam seni, 1900-an

Pada tahun 1970, Oxford Univesity menerbitkan sebuah kamus The Oxford Companion to Art. Kamus berisi 3000 entri dengan 1200 halaman. Pada halaman 169, 80 baris membahas tentang brush yang merupakan kuas sebagai alat untuk melukis. Pada bagian itupun disebutkan mengenai kata airbrush yang artinya sebuah alat yang biasanya digunakan oleh seniman komersial dengan cara menyemprotkan cat atau varnish dengan bantuan tekanan angin. Semprotan alat tersebut bisa diapliksikan pada lahan gambar yang lebih luas, membuat gradasi warna atau menciptakan kualitas garis yang halus. Edisi terakhir kamus tersebut diterbitkan tahun 1984, keterlambatan penerbitan kamus tersebut menyebabkan salah pengertian terhadap airbursh dan fungsinya sebagi salah satu instrument seni lukis. Namun alat ini masih belum mendapat pengakuan oleh dunia seni. Chales L. Budrick adalah orang pertama yang mendapatkan masalah tentang pengakuan dunia seni terhadap airbrush meskipun dia bukan orang terakhir dengan masalah tersebut.

 

The Royal Academy of Art menolak karya cat air untuk pameran tahunannya karena dibuat menggunakan airbrush. karyanya dianggap kehilangan mutu artistik karena dibuat dengan alat mekanik. Man Ray juga mengalami nasib yang tidak baik dengan karya airbrushnya. Seorang pelukis Amerika, guru gambar, pematung, fotografer, dan pembuat film yang lahir pada tahun 1890 di philadelphia ini dikenal juga sebagai salah satu pelopor gerakan Dadaisme, Surealisme dan Pop Art. Di tahun 1918 selalu mencari sesuatu yang baru –“dan menemukannya,”kata Picasso- Man Ray mengangkat airbrush ke permukaan dengan seni lukisannya yang dipamerkan di Paris dengan judul “First Object Aerated”. Tapi pameran dinyatakan gagal dan penuh kritik sampai-sampai Ray dituduh melakukan kriminalitas terhadap dunia seni dengan alat mekaniknya itu. Airbrush makin tak mendapat tempat di seni murni dan akhirnya airbrush harus menyerahkan dirinya pada seni komersial.

 

Era Pop Art,1960

Lalu airbrush sering digunakan untuk membuat pin-ups, mock up, photo retouching, poster, dan illustrasi iklan. Namun pada 1960-an karya-karya Pop Art mulai dilirik oleh berbagai perusahaan sebagai inspirasi iklan mereka. Teknik airbrush menjadi solusi yang tepat untuk mengolah ulang gambar karya-karya tersebut. Merlin Monroe dan kaleng sup Campbell-nya Warhol, komik vignette karya Lichtenstein, karya nude dari Wesselmann, dan berbagai karya Pop yang dibuat dengan media cat minyak, acrylic, enamel, serigraph dan tentu saja airbrush. Seniman Pop Art yang menggunakan airbrush untuk media berkaryanya adalah Peter Phillip dan Allen Jones.

Airbrush kian mendapat tempat dalam kaidah seni murni dengan hadirnya photorealism. Gerakan ini pertama kali dimulai di Guggenheim Museum’s landmark yang menggelar The Photographic Image di New York. Karya-karya yang dipajang rata-rata berukuran besar dan dilukis dengan absolute realis. Semua karya yang muncul mengunguli foto dengan kualitas yang tajam, menggarap detail dari mobil dan motor, interior, urban landscape dengan sangat detail diatas neon sign. Pameran berikutnya di adakan di Paris Bienal pada tahun 1972, menampilkan bentuk baru medium eksperi artistik: Hyperrealism, atau melampau batas realilsm. Tentu saja airbrush adalah medium yang cocok untuk mencapai bentuk ini.

Hyperrealism akhirnya membuat airbrush mendapat tempat dalam dunia seni murni. Sekarang airbrush diakui sebagai alat atau yang bisa digunakan oleh para seniman dalam berkarya. Mereka sadar akan karakteristik yang diciptakan airbrush dan menggunakannya untuk mengeksekusi karya mereka. Namun keberhasilan ini harus tetep dijaga dengan mengesplor terus teknik-teknik yang bisa dicapai oleh airbrush dan dengan menghasilkan karya-karya yang dasyat.

 

 

Airbrush Indonesia

Di tanah air, masuknya airbrush bersamaan dengan masuknya seniman dari Belanda selama penjajahan meskipun belum ada data yang akurat mengenai hal itu. Pada awal 90-an airbrush mulai popular di Indonesia khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Bandung, Jogya, dan Surabaya. Kepopularan ini dimulai dengan meningkatnya hobi para modifikator otomotif yang mulai mengeksplorasi tampilan cat bodi pada kendaraan. Scooter lah yang paling sering kita dengar dan lihat hadir dengan gambar-gambar di sekujur body montoknya. Hubungan modifikasi motor-mobil dan airbrush menjadi erat. Hal ini membuktikan bahwa kebutuhan seni di masyarakat telah merambah ke area otomotif. Mereka merasa perlu menambahkan sentuhan artistic pada tunggangan mereka selain memodifikasi bentuk dan mesin.

Walau sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal airbrush melalui perkembangan dunia modifikasi otomotif , airbrush sesungguhnya telah digunakan di Indonesia jauh sebelum itu. Banyak kebutuhan iklan di tanah air yang dibuat dengan alat ini, begitu pula dalam pengkoreksian foto-foto, dan yang mungkin jarang kita perhatikan yaitu airbursh digunakan dalam produksi masal di pabrik- pabrik untuk pengecetan mobil, motor, mainan, dll.

Dari data didapat oleh penulis tersebut nama-nama seperti Jhony le Purnomo dengan Custom worldnya jakarta, Udi budi dari Potlot airbrush jogya, kodoy, anton dll. (bersambung)